Permaidani awan

3/12/2017 09:48:00 PM

Ingin benar aku melabuhkan lambung kakiku pada hamparan damai
Yang cerah warnanya menghapus gelisah
Mulus kudus olahannya
Pasti getar tiap deria yang menduga

Permaidani awan yang dilatari langit biru nila terus tanpa lelah memayung aku..dari bahang terik suria yang saat ini galak menggigit2 epidermisku..mujur melaninku yang ramai menjadikan aku seakan-akan rintang pada sapaan hangat pusat sistem solar ini..

Tidak seperti hari-hari biasa, hari ini seolah-olah hari yang tidak ku tantikan. Tidak ada gelodak yang membuak-buak sebagaimana selalu membuatkan setiap dari otot dan sinaps berkomunikasi mengertikan bagiku sebuah hari yang dipenuhi apa yang disebut semangat.

Jendela sudahku buka seluasnya membenarkan olakan udara dan zarah oksigen berpusar mengisi ruang kamarku yang pudar. Skrin komputer yang menyala merindukan perhatianku pada wajahnya. Sang almari menunggu saat waktu aku menyelak pintunya, sedang fail-fail tugas berdebar menanti saat diaktifkan.

Semua itu tidak berlaku hari ini. Yang hadir hari ini bertemu meja, kerusi, skrin komputer dan keluarga ruang rezeki itu hanyalah sarung tubuh aku yang telah ditinggalkan oleh roh semangat, citra emosi dan cita hasrat yang saat ini masih berpendar sekitar kamu.

Sudah menjelang tengahari aku masih termangu memikirkan apa yang patut aku buat melewati hari ini dan hari-hari mati yang bakal tiba.

You Might Also Like

0 org cakap blakang

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images